17 Jun 2009

Hati Seorang Ayah

Seorang ayah memiliki hati yang penuh kasih untuk anak-anaknya. Hati seorang ayah akan tahan menderita bila sakit untuk dirinya sendiri, namun tidak akan tahan disaat melihat buah hatinya yang menderita. Bahkan jika sakit itu bisa digantikannya, ayah bersedia menggantikan sakit anaknya. Itulah hati seorang ayah. Saya mengenal seorang teman yang juga seorang ayah. Saya biasa memanggilnya Mas Jay. Kami biasa berdiskusi lewat milis dan malam itu Mas Jay berkunjung ke Rumah Amalia. Mas Jay bertutur mulanya dirinya orang yang ‘mbeling’ tidak memiliki keyakinan yang mantap dan tetap. Ketertarikan belajar sholat secara serius ketika ajakan yang begitu menyentuh dari anaknya yang masih TK. Anak yang masih relatif kecil setiap hari selalu mengajaknya untuk mengerjakan sholat. Awalnya dirinya menanggapi hal itu sebagai biasa saja. Ajakannya itu terasa betul-betul menampar hatinya. Begitu sangat berharga dan membuatnya menangis meraung-raung justru ketika anaknya sedang sakit masih sempat mengajaknya sholat Isya’. Katanya, ditengah malam anak saya suhu badannya panas tinggi dan perutnya mengeras. Anaknya menangis tak henti-hentinya merengek mengajak saya sholat. Tanpa berpikir panjang saya memenuhi permintaannya untuk mengambil air wudhu. Setelah mengerjakan sholat, kami bergegas menuju Rumah Sakit. Setelah diperiksa ternyata putranya harus dioperasi. Karuan saja dirinya menjadi panik. Bagaimana mungkin anaknya yang masih kecil itu dengan kekuatan fisiknya yang masih lemah untuk menghadapi operasi. ‘Saya hanya bisa berserah diri kepada Alloh SWT, saya berjanji jika anak saya sembuh. Saya akan rajin melaksanakan sholat seperti yang dimintanya.’ Tuturnya. Katanya Mas Jay sebelum anak saya masuk ruang operasi masih sempat bertanya pada dirinya, ‘ayah sudah sholat belum.’ Kata-kata itu begitu mengiris-iris hati saya. Dulu bila mendengar ajakan teman-temannya untuk sholat selalu menolaknya karena keengganan untuk melaksanakan sholat. Sekarang kata-kata itu justru muncul dari anak yang disayanginya, bagaimana mungkin dirinya bisa menolaknya, lanjutnya. Mas Jay tak bisa menyembunyikan airmatanya yang terus bercucuran. ‘Saya menunggu putranya didepan kamar operasi’ tuturnya. Ketika lampu operasi menyala. Dirinya bersama istri tercinta tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya, hilir mudik didepan kamar operasi. Waktu seolah berjalan lama sekali. ‘Segala macam doa yang saya tahu saya panjatkan kehadirat Alloh SWT.’ Setelah begitu lama, kamar operasi itu terbuka. Seorang dokter muncul dari pintu. Mencopot sarung tangannya. ‘Operasinya berjalan dengan baik, anak bapak sekarang perlu istirahat setelah itu boleh pulang.’ Mas Jay menangis bahagia. ‘Alangkah nikmatnya anugerah Alloh SWT yang diberikan kepada saya disaat harapan mulai memudar, Alloh SWT menyelamatkan putra saya,’ tuturnya. ‘Dan sejak itu saya lebih giat untuk melaksanakan sholat karena saya harus memenuhi janji saya,’ kata Mas Jay malam itu. Saya bisa merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Begitulah hati seorang ayah yang penuh kasih untuk sang buah hatinya.

2 Apr 2009

MENIKAH TIDAK HARUS DENGAN CINTA

Ada yang mengatakan bahwa untuk membangun rumah tangga yang harmonis, hendaknya di pupuk dan dibina dulu rasa cinta di antara kedua calon suami istri. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa cinta kasih itu hendaknya dibina setelah akad nikah bukan sebelum menikah.
Setelah pelaksanaan akad nikah / berstatus sebagai suami istri, tiap muslim wajib berusaha membina dan melestarikan cinta kasih. Makna dari pernyataan Allah SWT dlam surat Ar-Rum : 21 "mengenai konsep keluarga yang ideal, Sakinah, Mawaddah, Warahmah adalah tentang pentingnya melestarikan dan memlihara rasa cinta dan kasih sayang di antara suami istri.
Setiap suami istri wajib berusaha dan berdoa agar dirinya senantiasa mencintai dan dicintai oleh pasangannya. Mereka wajib berusaha untuk menjauhi segala macam ucapan dan perbuatan yang dapat mengurangi rasa saling mencintai.
Membangun rasa cinta sebelum akad nikah (membangun cinta sebelum menjadi suami istri) tidak selalu menjadi ukuran dan tahapan yang mesti ada dalam membangun rumah tangga yang diharapkan. Ada orang yang membangun cinta kasih habis - habisan sebelum menikah, setelah menikah menghadapi semacam kebosanan sehingga mereka perlu mencari penyegaran dari luar. Juga tidak sedikit orang yang berhasil membangun keluarga yang ideal padahal dia tidak pernah merintis bangunan cinta sebelum resmi suami istri.
Walaupun demikian, ada juga seorang muslim berusaha membangun cinta kasih sebelum pelaksanaan akad nikah, tapi ia konsekuen mentaati rambu - rambu yang di ajarkan oleh islam, seperti berduaan, tidak berbuat sesuatu yang mendekatkan diri kepada zina, tidak pergi jauh disertai mahram, dan selalu mampu menundukkan pandangan.